Menyikapi Laporan IPCC dengan Bijak

Sinar Harapan – September 24, 2007
Opinion: Daniel Murdiyarso

Baru-baru ini kita mendengar serangkaian peluncuran laporan Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Pertama dari Paris di bulan Februari 2007, kedua dari Brusel di bulan April, kemudian dari Bangkok bulan Mei yang lalu. Ketiganya memberi gambaran kelam tentang masa depan planet bumi kita jika kita tidak berbuat sesuatu.

IPCC dan Kewenangannya

IPCC dibentuk melalui kerja sama dua lembaga PBB (WMO dan UNEP) dengan tujuan antara lain untuk mendukung Konvensi Kerangka PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Tugasnya melakukan kajian (assessment) secara berkala tentang aspek ilmiah dan dampak perubahan iklim serta cara-cara mengatasinya.

Dalam melaksanakan tugas tersebut IPCC memiliki tiga Kelompok Kerja, yaitu bidang pertama mengkaji Ilmiah Perubahan Iklim, bidang kedua mengkaji Dampak, Adaptasi, dan Kerentanan terhadap Perubahan Iklim, serta kelompok kerja ketiga megkaji Mitigasi Perubahan Iklim.

IPCC tidak melakukan penelitian langsung, namun melakukan kajian terhadap publikasi ilmiah yang mutakhir, sehingga tidak heran jika tim penyusunnya terdiri dari lebih dari 2000 ilmuwan.

Draf laporannya telah melewati proses penilaian (review) yang ketat baik oleh para ilmuwan sendiri (yang bukan anggota tim penyusun) maupun oleh pemerintah. Laporan IPCC tidak dimaksudkan untuk memberikan resep kebijakan meski isinya sangat relevan dengan kebijakan itu sendiri. Oleh karena itu, Laporan IPCC yang memberikan pilihan kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim harus disikapi secara bijak, baik dalam skala global, nasional maupun lokal.

Perlu dicatat bahwa Laporan Pertama (First Assessment Report, FAR – 1990 ) telah banyak membantu proses perundingan internasional hingga terbentuk UNFCCC di tahun 1992. Laporan Kedua (Second Assessment Report, SAR – 1995) membantu proses adopsi Protokol Kyoto dengan target penurunan emisinya.

Laporan Ketiga (Third Assessment Report, TAR – 2001) banyak mengungkap bukti baru tentang kerentanan negara berkembang terhadap perubahan iklim. Sementara itu Laporan Keempat (Fourth Assessment Report, AR4-2007) yang terbit baru-baru ini mengupas lebih tajam dampak dan kerentanan secara regional.

Masa Depan Planet Kita

IPCC 4AR mencatat bahwa wilayah yang paling rentan dan sekaligus paling parah mengalami dampak perubahan iklim adalah negara-negara pulau kecil di Samudra Pasifik. Meningkatnya tinggi muka laut dan suhu air laut akan meningkatkan abrasi, mengurangi daya tahan alami mangrove dan terumbu karang dan pada gilirannya menghantam industri pariwisata. Tanpa peningkatan kemampuan beradaptasi negara kepulauan akan mengalami peningkatan suhu udara akan menderita lebih parah lagi karena berkurangnya produksi pangan dan pasokan air bersih.

Dalam waktu kurang dari lima puluh tahun, sebagian terbesar daratan Asia hampir dipastikan akan mengalami dampak yang hebat dari banjir, kekeringan dan kelaparan. Dampak ini melibatkan lebih dari satu milyar penduduk Asia. Angka ini sangat fantastis karena dalam 10 tahun mendatang jumlah penduduk yang akan terpengaruh baru sepersepuluhnya.

Hal ini terjadi karena peningkatan tinggi muka laut yang akan menggenangi kawasan yang dihuni jutaan manusia di delta sungai-sungai besar seperti Gangga-Brahmaputra, Yangtze, Sungai Merah dan Mekong juga diperparah oleh mencairnya gletser di Himalaya karena peningkatan suhu udara.

Meski negara maju seperti Australia juga mengalami dampak yang hebat, mereka memiliki kemapuan yang memadai untuk mengatasi dampak tersebut. Ketersedian air bersih di bagian tenggara benua kanguru, di mana penduduk terkonsentrasi, akan menyusut hingga 25 persen dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun.

Akibatnya ekosistem hutan akan sangat rentan terhadap kebakaran, terumbu karang akan mengalami pengelantangan (bleaching) yang hebat.

Dalam Kajian IPCC 4AR ada tiga hal disebut secara spesifik tentang Indonesia. Pertama, meningkatnya hujan di kawasan utara dan menurunnya hujan di selatan (khatulistiwa). Kedua, kebakaran hutan dan lahan yang peluangnya akan makin besar dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas El-Nino.

Ketiga, delta Sungai Mahakam masuk ke dalam peta kawasan pantai yang rentan. Karena terbatasnya publikasi ilmiah tentang Indonesia, kejadian-kejadian ekstrem yang banyak kita jumpai sehari-hari tidak terekam dalam kajian ini.

Menyikapinya

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perubahan dan variabilitas iklim sudah terjadi dan dampaknya akan semakin buruk jika kita tidak melakukan sesuatu yang berarti baik melalui pencegahan (mitigasi), maupun melalui upaya penyesuaian diri (adaptasi) terhadap dampak yang ditimbulkan.

Di dalam semuanya itu, negara-negara yang tergolong miskin adalah yang paling menderita karena dua alasan. Pertama, letak geografis negara-negara ini di sekitar khatulistiwa dimana perubahan dan variabilitas suhu dan curah hujan relatif lebih besar dibanding negara-negara yang berada di lintang yang lebih tinggi yang nota bene adalah negara-negara maju.

Kedua, rendahnya kemampuan ekonomi dan teknologi negara-negara miskin membuat mereka sangat rentan dengan kemapuan beradaptasi yang rendah.

Perubahan dan variabilitas iklim juga terjadi di Indonesia. Dampaknya sudah sering kita alami meski tidak banyak didokumentasikan secara ilmiah. Indonesia dengan kerentanannya yang tinggi dan kapasitasnya adaptasi yang rendah memerlukan aliansi bersama negara senasib dalam memperjuangkan posisi dan desakannya kepada negara maju yang memiliki kemampuan lebih baik.

Proses perundingan Konferensi Para Pihak UNFCCC yang ketigabelas (COP13) di Bali pada bulan Desember mendatang perlu mengangkat masalah adaptasi dengan langkah-langkah yang lebih konkrit dibanding keputusan di Nairobi tahun lalu. Perundingan perlu lebih spesifik mengacu pada kajian IPCC 4AR.

Karena itu, peranan Indonesia sebagai Presiden COP 13 sangatlah penting, khususnya dalam menyuarakan kepentingan negaraberkembang. Kepemimpinan Indonesia dalam hal adaptasi perlu didemonstrasikan. Bali dapat menjadi tonggak penting dalam hal komitmen baru mengenai mitigasi sementara kesepakatan konkrit mengenai adaptasi dirumuskan. n

Penulis adalah peneliti Senior CIFOR dan Review Editor IPCC Fourth Assessment Report

Top