Lembaga penelitian kehutanan, Center for International Forestry Research (CIFOR) mendorong pemangku kebijakan dalam menerapkan pendekatan bentang alam yang terintegrasi dengan keterlibatan partisipatif masyarakat untuk menghadapi masalah global seperti kemiskinan, ketahanan pangan dan sosial budaya. Josh, peneliti dari CIFOR menjelaskan pada lokakarya jurnalis di Kuta, Bali, Selasa, bahwa pemangku kebijakan berperan untuk menciptakan kebijakan lingkungan yang memberikan ruang kepada pendekatan bentang alam dengan solusi yang terintegrasi. Menurutnya, pendekatan bentang alam merupakan kerangka untuk mengintegrasikan kebijakan dan penggunaan lahan dengan sistem manajemen yang terintegrasi dan mengajak semua pihak untuk bernegosiasi membuat perencanaan bersama dalam meminimalkan dampak negatif. Selain itu, Linda Yuliani, peneliti CIFOR lainnya menjelaskan bahwa pendekatan lanskap itu tidak hanya melihat satu sisi seperti pengelolaan hutan semata tetapi mempertimbangkan sisi ekonomi, konservasi, budaya, lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di dalamnya.