Beberapa Hasil dan Contoh Pengalaman
Meskipun analisis masih terus dilakukan, namun
dari beberapa survei yang berbeda sudah diperoleh sejumlah hasil termasuk di antaranya
database, laporan, model, dan 'pelajaran' secara umum.
INDONESIA
Kalimantan
Ringkasan hasil
Lima kelas hasil dari survei di Malinau, Kalimantan adalah:
Sebuah catatan yang berkaitan dengan biofisik (terutama kondisi tempat
dan vegetasi, ikan dan fauna yang lain).
- Minat masyarakat lokal dan bagaimana hubungannya dengan lanskap.
Termasuk budaya manusia, kependudukan dan konteks sosial-ekonomi di tujuh kelompok
masyarakat.
- Metode yang menjelaskan bagaimana menilai minat masyarakat lokal sebagai
sebuah dasar untuk perencanaan pemanfaatan lahan yang lebih baik.
- Beberapa usulan tentang bagaimana pandangan masyarakat lokal bisa
digabungkan ke dalam beragam kegiatan yang sedang berjalan.
- Identifikasi topik-topik yang memerlukan penelitian dan pengembangan
lebih jauh.
1. Konteks Biofisik
Survei di lapangan mencakup 200 contoh atau sampel lokasi, mulai dari ladang
hingga hutan hujan yang masih perawan.

Database dari survei lapangan bisa
di-download.
Ribuan spesimen yang diambil untuk proses identifikasi meliputi 2118 spesies, 75% di
antaranya dilaporkan memiliki satu atau beberapa nilai atau kegunaan lokal.

Grafik di bawah ini menunjukkan persentase per-plot dari seluruh spesies yang bernilai
atau berguna yang dicatat berdasarkan tipe lokasi menurut informan Merap dan
Punan. Tanda bulat menunjukkan nilai tengah sedangkan tanda garis menandakan
nilai tertinggi dan terendah untuk masing-masing tipe lokasi yang diberikan oleh
masing-masing informan.

Disamping data-data mengenai pohon, herba, tumbuhan pemanjat, dan kelompok tumbuhan lain
yang beragam, beberapa daftar burung, mamalia, reptil, amfibi, ikan, dan beragam hewan
invertebrata telah dihasilkan dari studi keanekaragaman hayati yang dilakukan CIFOR di
daerah tersebut. Daftar-daftar ini diperoleh berdasarkan pengamatan ekstensif dan koleksi
serta informasi dari masyarakat lokal. Dari beberapa taxa yang berhasil dikumpulkan,
kemungkinan sejumlah di antaranya merupakan jenis baru.
2. Kesukaan lokal Kegiatan memberi skor dengan Metode Distribusi Kerikil (Pebble
Distribution Method = PDM) menunjukkan bagaimana masyarakat lokal memberikan skor untuk
mengetahui seberapa penting hutan dibandingkan dengan jenis lahan yang lain baik secara
umum maupun untuk nilai-nilai dan kepentingan khusus (lihat penjelasan kode di bawah
tabel). Di bawah ini adalah ringkasan skor dari ketujuh kelompok masyarakat, pria dan
wanita, tua dan muda, Merap dan Punan. Kecuali untuk rekreasi', hutan memperoleh
skor tertinggi di seluruh kategori.
Tipe lahan |
FO |
ME |
LC |
HC |
BC |
TO |
FW |
BAC |
OR |
MI |
HF |
HP |
RE |
FT |
OA |
Kampung |
11.3 |
15.5 |
1.4 |
2.3 |
0.3 |
1.8 |
1.6 |
2.7 |
13.2 |
9.2 |
7.0 |
0.1 |
17.8 |
13.0 |
6.9 |
Bekas Kampung |
6.0 |
4.8 |
4.8 |
1.5 |
0.8 |
2.5 |
2.2 |
4.5 |
5.3 |
6.7 |
5.0 |
6.0 |
2.1 |
4.9 |
4.1 |
Kebun |
12.2 |
8.4 |
4.7 |
1.1 |
0.2 |
0.3 |
8.6 |
2.5 |
10.5 |
16.9 |
4.5 |
7.0 |
11.7 |
15.9 |
7.4 |
Sungai |
14.6 |
11.1 |
11.0 |
6.7 |
7.8 |
8.9 |
19.0 |
10.7 |
15.6 |
14.6 |
7.9 |
14.5 |
26.6 |
8.5 |
12.7 |
Rawa |
7.3 |
5.7 |
9.2 |
9.2 |
11.5 |
10.6 |
3.9 |
7.9 |
3.8 |
4.4 |
5.6 |
7.3 |
1.5 |
7.2 |
6.8 |
Ladang |
13.8 |
4.7 |
1.8 |
1.8 |
0.9 |
0.4 |
17.0 |
1.1 |
0.8 |
12.3 |
0.7 |
7.5 |
12.4 |
10.4 |
6.1 |
Jekau muda |
6.5 |
5.8 |
1.7 |
1.3 |
0.8 |
2.0 |
10.0 |
3.5 |
3.3 |
3.6 |
1.5 |
5.1 |
0.3 |
8.0 |
3.8 |
Jekau tua |
5.9 |
8.4 |
27.0 |
4.9 |
4.7 |
12.1 |
13.8 |
17.5 |
14.3 |
2.5 |
14.5 |
14.9 |
3.2 |
10.5 |
11.0 |
Hutan |
22.3 |
35.6 |
38.3 |
71.2 |
73.1 |
61.4 |
23.9 |
49.6 |
33.3 |
29.8 |
53.4 |
37.5 |
24.5 |
21.5 |
41.1 |
Total |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
Hutan primer |
38.6 |
36.3 |
35.6 |
50.7 |
49.5 |
44.7 |
29.1 |
39.0 |
30.3 |
35.8 |
43.5 |
36.5 |
34.6 |
30.7 |
38.2 |
Hutan sekunder |
7.6 |
8.2 |
8.6 |
5.9 |
4.6 |
5.1 |
15.9 |
5.9 |
10.0 |
8.4 |
4.9 |
7.3 |
8.1 |
12.7 |
8.1 |
Jekau |
12.1 |
15.1 |
23.0 |
4.0 |
2.0 |
4.8 |
35.6 |
15.6 |
26.8 |
7.1 |
9.1 |
11.8 |
15.7 |
23.6 |
14.7 |
Hutan rawa |
10.7 |
12.7 |
12.1 |
10.0 |
15.5 |
14.6 |
10.1 |
14.7 |
12.1 |
12.4 |
13.7 |
15.6 |
17.5 |
13.7 |
13.2 |
Hutan gunung |
31.0 |
27.8 |
20.6 |
29.4 |
28.5 |
30.9 |
9.3 |
24.8 |
20.8 |
36.4 |
28.7 |
29.0 |
24.0 |
19.3 |
25.7 |
Total |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
100.0 |
Penjelasan dalam penggunaan kode kelas:
FO = Makanan
ME = Obat-obatan
LC = Bahan pondok
HC = Bahan bangunan
BC = Bahan perahu
TO = Perkakas
FW = Kayu bakar
BAC= Anyaman |
|
OR = Hiasan/upacara
MI = Bahan dijual
HF = Bahan berburu
HP = Tempat berburu
RE = Rekreasi
FT = Masa depan
OA = Rata-rata
|
PDM juga mengungkapkan bagaimana masyarakat membandingkan arti penting
sumber daya yang liar dan yang ditanam/dipelihara baik tumbuhan maupun binatang. Gambar di
bawah ini membedakan hasil yang diperoleh di dua dari tujuh kelompok masyarakat.

Di Long Jalan,para pria bekerja
terutama sebagai pengumpul gaharu dan berburu binatang liar namun jarang atau tidak
memiliki lahan yang sesuai untuk bercocok tanam sehingga beras harus dibeli. Di Langap,
para petani lebih maju dan menanam sendiri sebagian besar kebutuhan makanan mereka, dan
mempunyai cukup waktu untuk memelihara binatang selain ayam. Para pemuda di Langap bahkan
suka berburu binatang liar di hutan.
Serangkaian kombinasi kegiatan memberi skor yang lebih mendalam bisa
dilakukan untuk mengidentifikasi 'jenis-jenis yang paling penting', baik tumbuhan maupun
binatang. Jika jenis-jenis tersebut dikombinasikan dengan informasi ekologi, nilai
konservasi serta ancaman yang ada, hasilnya merupakan sebuah perangkat yang sangat berguna
untuk membuat prioritas rencana konservasi dan sebagai pedoman untuk penelitian di masa
datang.
Database jenis tumbuhan dan binatang dari kegiatan PDM bisa
di-download dari
website ini.
3. Metode
Kami mempertimbangkan serangkaian metode yang kami kembangkan juga sebagai hasil
kerja kami. Saat ini kami sedang mempromosikan penggunaan pendekatan ini untuk survei
keanekaragaman hayati dengan membuat terjemahan dalam Bahasa Indonesia, Spanyol, dan
Perancis. (lihat di publikasi)
4. Saran
Peraturan pemerintah mengenai penebangan (TPTI, Tebang Pilih Tanam Indonesia) menganjurkan
perusahaan kayu untuk membabat semua tumbuhan bawah dan pemanjat secara berulang-ulang
(termasuk jenis-jenis yang berguna seperti rotan dan tanaman obat), untuk mempercepat
proses regenerasi. Survei kami menunjukkan bahwa banyak nilai yang bermanfaat untuk
masyarakat lokal di hutan yang sudah ditebang menjadi hilang akibat praktek ini, dan
keanekaragaman hayati berkurang, sementara keuntungan dari aspek silvikulturnya pun
diragukan. Tampaknya akan lebih bijaksana untuk meninjau ulang kebijakan ini.
Reduced Impact Logging (RIL) atau pembalakan berdampak rendah
memerlukan perencanaan jalan dan jalur sarad yang cermat. Salah satunya adalah dengan
pembuatan jalan di sepanjang punggung bukit dimana tumbuh jenis sagu yang bermanfaat (Eugeissona
utilis), yang merupakan sumber makanan utama di saat paceklik. Peraturan mengenai RIL
seharusnya disesuaikan agar lebih memperhatikan sumberdaya lokal yang penting ini.
Perlindungan tempat-tempat khusus seperti kuburan di dalam hutan dan
mata air asin yang penting bagi satwa liar bisa bermanfaat baik untuk kepentingan
masyarakat lokal maupun kelangsungan keanekaragaman hayati. Hal ini hanyalah satu dari
sekian banyak kemungkinan untuk mencapai situasi yang saling menguntungkan.
5. Penelitian dan pengembangan yang lebih
lanjut
Ekstrapolasi spasial dari hasil survei ini masih belum jelas. Oleh karena itu, sebuah
studi kasus yang dilakukan oleh Resilience Alliance dipersiapkan untuk menerapkan
pendekatan spasial yang dipakai di Mozambik (lihat di metode Moz) ke daerah di sekitar Lio
Mutai, salah satu lokasi survei yang terpencil. Laporan dari studi kasus ini sedang dalam
penyelesaian.
Tindak lanjut yang lain dari kegiatan ini adalah penyampaian
kembali hasil-hasil penelitian kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Daripada sebuah
laporan tertulis, kami memilih untuk membuat satu set yang terdiri dari empat poster
mengenai "Apa yang penting bagi kami (=masyarakat lokal) di lanskap (=setempat)
ini?", dengan banyak gambar, ilustrasi berwarna dan beberapa teks singkat dan
sederhana. Kami telah mengadakan beberapa pertemuan dengan masyarakat untuk meyakinkan
bahwa mereka setuju dengan apa yang telah mereka kemukakan. Di dalam poster, kami juga
mencantumkan beberapa fakta mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia dan Kalimantan
yang begitu banyak dan hasil analisa tanah yang merupakan bagian dari survei tersebut.
Dari kesemuanya itu, kami berharap bahwa informasi ini akan dipertimbangkan oleh para
pembuat keputusan dalam proses perencanaan pemanfaatan lahan selanjutnya di kabupaten baru
tersebut.
kembali ke atas
|