Last updated April 2010 
 
Versi cetak | Sitemap

Beberapa Hasil dan Contoh Pengalaman

Meskipun analisis masih terus dilakukan, namun dari beberapa survei yang berbeda sudah diperoleh sejumlah hasil termasuk di antaranya database, laporan, model, dan 'pelajaran' secara umum.

INDONESIA

Kalimantan

Ringkasan hasil

Lima kelas hasil dari survei di Malinau, Kalimantan adalah:

  1. Sebuah catatan yang berkaitan dengan biofisik (terutama kondisi tempat dan vegetasi, ikan dan fauna yang lain).

  2. Minat masyarakat lokal dan bagaimana hubungannya dengan lanskap. Termasuk budaya manusia, kependudukan dan konteks sosial-ekonomi di tujuh kelompok masyarakat.
  3. Metode yang menjelaskan bagaimana menilai minat masyarakat lokal sebagai sebuah dasar untuk perencanaan pemanfaatan lahan yang lebih baik.
  4. Beberapa usulan tentang bagaimana pandangan masyarakat lokal bisa digabungkan ke dalam beragam kegiatan yang sedang berjalan.
  5. Identifikasi topik-topik yang memerlukan penelitian dan pengembangan lebih jauh.

1. Konteks Biofisik

Survei di lapangan mencakup 200 contoh atau sampel lokasi, mulai dari ladang hingga hutan hujan yang masih perawan.

Database dari survei lapangan bisa di-download.
Ribuan spesimen yang diambil untuk proses identifikasi meliputi 2118 spesies, 75% di antaranya dilaporkan memiliki satu atau beberapa nilai atau kegunaan lokal.

Grafik di bawah ini menunjukkan persentase per-plot dari seluruh spesies yang bernilai atau berguna yang dicatat berdasarkan tipe lokasi menurut informan Merap dan Punan. Tanda bulat menunjukkan nilai tengah sedangkan tanda garis menandakan nilai tertinggi dan terendah untuk masing-masing tipe lokasi yang diberikan oleh masing-masing informan.

Disamping data-data mengenai pohon, herba, tumbuhan pemanjat, dan kelompok tumbuhan lain yang beragam, beberapa daftar burung, mamalia, reptil, amfibi, ikan, dan beragam hewan invertebrata telah dihasilkan dari studi keanekaragaman hayati yang dilakukan CIFOR di daerah tersebut. Daftar-daftar ini diperoleh berdasarkan pengamatan ekstensif dan koleksi serta informasi dari masyarakat lokal. Dari beberapa taxa yang berhasil dikumpulkan, kemungkinan sejumlah di antaranya merupakan jenis baru.

2. Kesukaan lokal

Kegiatan memberi skor dengan Metode Distribusi Kerikil (Pebble Distribution Method = PDM) menunjukkan bagaimana masyarakat lokal memberikan skor untuk mengetahui seberapa penting hutan dibandingkan dengan jenis lahan yang lain baik secara umum maupun untuk nilai-nilai dan kepentingan khusus (lihat penjelasan kode di bawah tabel). Di bawah ini adalah ringkasan skor dari ketujuh kelompok masyarakat, pria dan wanita, tua dan muda, Merap dan Punan. Kecuali untuk ‘rekreasi', hutan memperoleh skor tertinggi di seluruh kategori.

Tipe lahan

FO

ME

LC

HC

BC

TO

FW

BAC

OR

MI

HF

HP

RE

FT

OA

Kampung

11.3

15.5

1.4

2.3

0.3

1.8

1.6

2.7

13.2

9.2

7.0

0.1

17.8

13.0

6.9

Bekas Kampung

6.0

4.8

4.8

1.5

0.8

2.5

2.2

4.5

5.3

6.7

5.0

6.0

2.1

4.9

4.1

Kebun

12.2

8.4

4.7

1.1

0.2

0.3

8.6

2.5

10.5

16.9

4.5

7.0

11.7

15.9

7.4

Sungai

14.6

11.1

11.0

6.7

7.8

8.9

19.0

10.7

15.6

14.6

7.9

14.5

26.6

8.5

12.7

Rawa

7.3

5.7

9.2

9.2

11.5

10.6

3.9

7.9

3.8

4.4

5.6

7.3

1.5

7.2

6.8

Ladang

13.8

4.7

1.8

1.8

0.9

0.4

17.0

1.1

0.8

12.3

0.7

7.5

12.4

10.4

6.1

Jekau muda

6.5

5.8

1.7

1.3

0.8

2.0

10.0

3.5

3.3

3.6

1.5

5.1

0.3

8.0

3.8

Jekau tua

5.9

8.4

27.0

4.9

4.7

12.1

13.8

17.5

14.3

2.5

14.5

14.9

3.2

10.5

11.0

Hutan

22.3

35.6

38.3

71.2

73.1

61.4

23.9

49.6

33.3

29.8

53.4

37.5

24.5

21.5

41.1

Total

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

Hutan primer

38.6

36.3

35.6

50.7

49.5

44.7

29.1

39.0

30.3

35.8

43.5

36.5

34.6

30.7

38.2

Hutan sekunder

7.6

8.2

8.6

5.9

4.6

5.1

15.9

5.9

10.0

8.4

4.9

7.3

8.1

12.7

8.1

Jekau

12.1

15.1

23.0

4.0

2.0

4.8

35.6

15.6

26.8

7.1

9.1

11.8

15.7

23.6

14.7

Hutan rawa

10.7

12.7

12.1

10.0

15.5

14.6

10.1

14.7

12.1

12.4

13.7

15.6

17.5

13.7

13.2

Hutan gunung

31.0

27.8

20.6

29.4

28.5

30.9

9.3

24.8

20.8

36.4

28.7

29.0

24.0

19.3

25.7

Total

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

100.0

 

Penjelasan dalam penggunaan kode kelas:

 

FO = Makanan
ME = Obat-obatan
LC = Bahan pondok
HC = Bahan bangunan
BC = Bahan perahu
TO = Perkakas
FW = Kayu bakar
BAC= Anyaman

OR = Hiasan/upacara
MI = Bahan dijual
HF = Bahan berburu
HP = Tempat berburu
RE = Rekreasi
FT = Masa depan
OA = Rata-rata

PDM juga mengungkapkan bagaimana masyarakat membandingkan arti penting sumber daya yang liar dan yang ditanam/dipelihara baik tumbuhan maupun binatang. Gambar di bawah ini membedakan hasil yang diperoleh di dua dari tujuh kelompok masyarakat.

Di Long Jalan,para pria bekerja terutama sebagai pengumpul gaharu dan berburu binatang liar namun jarang atau tidak memiliki lahan yang sesuai untuk bercocok tanam sehingga beras harus dibeli. Di Langap, para petani lebih maju dan menanam sendiri sebagian besar kebutuhan makanan mereka, dan mempunyai cukup waktu untuk memelihara binatang selain ayam. Para pemuda di Langap bahkan suka berburu binatang liar di hutan.

Serangkaian kombinasi kegiatan memberi skor yang lebih mendalam bisa dilakukan untuk mengidentifikasi 'jenis-jenis yang paling penting', baik tumbuhan maupun binatang. Jika jenis-jenis tersebut dikombinasikan dengan informasi ekologi, nilai konservasi serta ancaman yang ada, hasilnya merupakan sebuah perangkat yang sangat berguna untuk membuat prioritas rencana konservasi dan sebagai pedoman untuk penelitian di masa datang.

Database jenis tumbuhan dan binatang dari kegiatan PDM bisa di-download dari website ini.

3. Metode

Kami mempertimbangkan serangkaian metode yang kami kembangkan juga sebagai hasil kerja kami. Saat ini kami sedang mempromosikan penggunaan pendekatan ini untuk survei keanekaragaman hayati dengan membuat terjemahan dalam Bahasa Indonesia, Spanyol, dan Perancis. (lihat di publikasi)

4. Saran

Peraturan pemerintah mengenai penebangan (TPTI, Tebang Pilih Tanam Indonesia) menganjurkan perusahaan kayu untuk membabat semua tumbuhan bawah dan pemanjat secara berulang-ulang (termasuk jenis-jenis yang berguna seperti rotan dan tanaman obat), untuk mempercepat proses regenerasi. Survei kami menunjukkan bahwa banyak nilai yang bermanfaat untuk masyarakat lokal di hutan yang sudah ditebang menjadi hilang akibat praktek ini, dan keanekaragaman hayati berkurang, sementara keuntungan dari aspek silvikulturnya pun diragukan. Tampaknya akan lebih bijaksana untuk meninjau ulang kebijakan ini.

Reduced Impact Logging (RIL) atau pembalakan berdampak rendah memerlukan perencanaan jalan dan jalur sarad yang cermat. Salah satunya adalah dengan pembuatan jalan di sepanjang punggung bukit dimana tumbuh jenis sagu yang bermanfaat (Eugeissona utilis), yang merupakan sumber makanan utama di saat paceklik. Peraturan mengenai RIL seharusnya disesuaikan agar lebih memperhatikan sumberdaya lokal yang penting ini.

Perlindungan tempat-tempat khusus seperti kuburan di dalam hutan dan mata air asin yang penting bagi satwa liar bisa bermanfaat baik untuk kepentingan masyarakat lokal maupun kelangsungan keanekaragaman hayati. Hal ini hanyalah satu dari sekian banyak kemungkinan untuk mencapai situasi yang saling menguntungkan.

5. Penelitian dan pengembangan yang lebih lanjut

Ekstrapolasi spasial dari hasil survei ini masih belum jelas. Oleh karena itu, sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Resilience Alliance dipersiapkan untuk menerapkan pendekatan spasial yang dipakai di Mozambik (lihat di metode Moz) ke daerah di sekitar Lio Mutai, salah satu lokasi survei yang terpencil. Laporan dari studi kasus ini sedang dalam penyelesaian.

Tindak lanjut yang lain dari kegiatan ini adalah penyampaian kembali hasil-hasil penelitian kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Daripada sebuah laporan tertulis, kami memilih untuk membuat satu set yang terdiri dari empat poster mengenai "Apa yang penting bagi kami (=masyarakat lokal) di lanskap (=setempat) ini?", dengan banyak gambar, ilustrasi berwarna dan beberapa teks singkat dan sederhana. Kami telah mengadakan beberapa pertemuan dengan masyarakat untuk meyakinkan bahwa mereka setuju dengan apa yang telah mereka kemukakan. Di dalam poster, kami juga mencantumkan beberapa fakta mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia dan Kalimantan yang begitu banyak dan hasil analisa tanah yang merupakan bagian dari survei tersebut. Dari kesemuanya itu, kami berharap bahwa informasi ini akan dipertimbangkan oleh para pembuat keputusan dalam proses perencanaan pemanfaatan lahan selanjutnya di kabupaten baru tersebut.

kembali ke atas