Indonesia
[Kalimantan] [Sumatra]
SumatraPendekatan MLA disesuaikan dan diterapkan pada
Hutan Tanaman Industri (HTI)) di Sumatra, Indonesia. Kawasan ini biasanya berupa
hutan bekas tebangan dan daerah berumput sebelum dikonversi menjadi HTI. Sebuah
tim kecil yang terdiri dari 1 peneliti CIFOR dan 2 mahasiswa program master
melakukan survei, dengan tujuan untuk menentukan variasi sumberdaya yang
diperoleh masyarakat lokal dari HTI sebelum penanaman, dimana mereka
memperolehnya dan seberapa penting sumberdaya tersebut bagi mereka.

Anggota tim sedang melakukan
kegiatan PDM bersama masyarakat desa
Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat lokal setiap tahun
memperoleh lebih dari 300 macam hasil dari daerah konsesi HTI di dekat tempat
tinggal mereka mulai dari bahan bangunan, obat-obatan, makanan dan hasil lain
yang bisa dijual di pasar setempat. Hasil ini memperlihatkan secara kritis bahwa
apa yang disebutkan oleh perusahaan HTI di Sumatra sebagai 'kurang menguntungkan'
atau 'lahan kosong', ternyata sumber mata pencaharian yang penting bagi
masyarakat lokal. Hal ini mungkin membantu mereka untuk memahami dengan lebih
baik alasan mengapa masyarakat menolak perubahan penggunaan lahan menjadi sebuah
hutan tanaman monokultur.
Sebagai tambahan dalam penggunaan metode MLA, tim kami
menghubungkan sebuah nilai mata uang dengan hasil-hasil yang yang diperoleh dari
daerah tersebut, jika mungkin dengan menggunakan harga pasar atau dengan
menghubungkan harga sebuah 'produk substitusi'; nilai yang dihasilkan berkisar
antara $350 hingga $730 US/ha/tahun tergantung pada keragaman dan kelimpahan
produk atau hasil, ukuran desa tersebut dan seberapa dekatnya dengan pasar.
Karena perusahaan menawarkan kesepakatan kepada masyarakat lokal yang menuntut
haknya di dalam kawasan konsesi HTI, jumlah hitungan uang ini bisa dipergunakan
sebagai panduan untuk mengajukan tawaran kompensasi bagi tempat-tempat khusus
yang dinilai.
Salah satu perusahaan HTI tersebut telah menunjukkan minat
yang besar dalam penerapan pendekatan MLA pada daerah-daerah target lain.
Beberapa staf lapangan perusahaan tersebut berpartisipasi dalam kegiatan PDM,
bersama dengan para mahasiswa, untuk 'belajar dengan melakukan' bagaimana
menerapkan metode ini di masa datang. Kami merasa bahwa nilai sesungguhnya dari
penerapan MLA terletak pada pemakaian perangkat ini oleh perusahaan HTI di masa
datang yang bisa memanfaatkan metode yang 'mudah diterapkan' dan murah ini untuk
memahami kebutuhan masyarakat dengan lebih baik dand untuk merumuskan
kesepakatan yang lebih baik antara perusahaan - masyarakat, dengan
mempertimbangkan kepentingan masing-masing daerah yang spesifik untuk
dicantumkan dalam kesepakatan.
Sebuah dokumen dengan serangkaian hasil yang lengkap dan
beberapa rekomendasi yang relevan untuk perusahaan HTI di Indonesia dapat di
download di sini.
|