Kamerun
Pendekatan MLA diterapkan pada sebuah penilaian lanskap di Nkolbibanda,
sebuah desa yang berjarak 50 km sebelah barat daya Yaoundé dan terletak di sebelah utara
sebuah hutan lindung yang tidak begitu luas (2950 ha). Kawasan riset merupakan
bagian dari apa yang disebut sebagai hutan hujan Guineo-Congolean semi-hijau daun
periferal kering. Lanskapnya adalah sebuah mosaik beberapa areal terdegradasi dan hutan
yang utuh, dengan bukit-bukit yang memiliki kelerengan landai hingga sedang, serta lembah
sungai kecil yang sering berawa-rawa. Seluruh kawasan telah ditebang secara selektif sejak
1950'an.
Masyarakat di Nkolbibanda merupakan kelompok suku Ewondo, dan sebagian
besar dari kaum yang sama dengan kelompok keluarga (Mvog) Fouda Mballa. Kebanyakan dari
mereka tergantung pada usaha sektor pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan dan
pendapatan, misalnya dengan berladang singkong, kacang tanah, pisang, jagung, labu dan
beberapa jenis sayur-mayur. Coklat telah menjadi tanaman perkebunan utama sejak sekitar
tahun 1910 tetapi saat ini kelapa sawit sedang populer. Mereka memelihara beberapa jenis
hewan (sebagian besar ayam, kambing agak jarang) dan menangkap mamalia kecil untuk
dimakan, seperti landak, tikus, antelop dan trenggiling. Orang-orang juga mengumpulkan
hasil hutan dalam jumlah besar termasuk buah-buahan dan kacang-kacangan, ulat dan tumbuhan
obat.
Wilayah adat Nkolbibanda dahulu pernah terentang hingga daerah yang
sekarang dikenal dengan Cagar Alam Ottotomo. Ketika pemerintah kolonial mengukuhkan
kawasan ini pada 1930, wilayah tradisional tidak diperhitungkan dan sejumlah desa
kehilangan lahan dan/atau ditetapkan sebagai sebuah enclave di dalam kawasan. Karena
kepadatan populasi telah bertambah hingga mencapai 30/km2, masyarakat sekarang
menghadapi masalah keterbatasan lahan. Konflik antara penduduk lokal dan pihak pengelola
kawasan pun mulai sering muncul. Sejak 2001, CIFOR terus-menerus bekerja untuk
meningkatkan hubungan antara penduduk lokal , NGO lokal dan pengelola kawasan hutan.
Survei MLA memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik mengenai apa
saja yang dibutuhkan dari lingkungan dan menjadi prioritas bagi masyarakat yang tinggal di
sekitar kawasan. Kami berharap survei tersebut juga akan menjadi dasar untuk mengembangkan
dialog antara pihak yang berwenang dan masyarakat, yang akan mempengaruhi
keputusan-keputusan di masa yang akan datang mengenai pengelolaan kawasan lindung dan
daerah di sekitarnya.
Survei tersebut berlangsung pada bulan Agustus dan September 2003.

|