MLA

Multidisciplinary Lanscape Assessment

 

Prioritas masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya lahan hutan di hulu sungai Malinau, Kalimantan Timur.

Basuki, I. and D. Sheil, 2004. Environmental Services Briefs, CIFOR, Bogor, Indonesia.

Abstract:

Kami telah melakukan studi sumberdaya lahan bersama tujuh masyarakat di sekitar Sungai Malinau Kalimantan Timur sejak 1999 hingga 2001. Wilayah ini diketahui merupakan lanskap hutan yang meliputi beragam formasi geologi tetapi sangat sedikit informasi tentang tanah dan potensi penggunaan lahannya. Enam ratus contoh tanah yang diambil dari 200 plot penelitian telah dianalisis kimia dan fisik. Persepsi masyarakat lokal mengenai sumberdaya lahannya juga telah dicatat untuk setiap plot melalui kerjasama dengan masyarakat Merap dan Punan. Suku Merap lebih banyak berusaha di bidang perladangan berpindah sedangkan suku Punan lebih banyak dalam hal pemanfaatan hasil-hasil hutan.

Tanah-tanah yang kami pelajari memiliki kondisi bervariasi tetapi semua memiliki kesuburan yang relatif rendah. Ketidaksuburan ini disebabkan oleh kemasaman reaksi tanah (pH), dan rendahnya KTK, bahan organik, phospor, dan kejenuhan basa. Alternatif penggunaan lahan untuk pertanian yang berkelanjutan sangat terbatas dan lahan tersebut tidak sesuai untuk pengembangan lada, kopi, coklat, kemiri, karet, dan kelapa sawit. Sedikit wilayah aluvial di pinggir sungai sesuai untuk pengembangan padi ladang dan kelapa. Tempat-tempat tersebut sudah digunakan untuk coklat, kopi dan ladang padi sehingga sangat sedikit kemungkinannya untuk dikembangkan lagi. Topografi yang curam menyebabkan terjadinya erosi tanah, bahkan di dalam hutan primer, dan secara umum tingkat ancaman erosi adalah tinggi. Pada beberapa tempat pengambilan kayu telah menyebabkan pemadatan tanah dan memperlambat proses penghutanan kembali. Padas yang keras ditemukan pada banyak plot dan semakin mengurangi alternatif penggunaan lahan non-hutan. Sensitifitas tanah tersebut, terutama bahaya erosi, merupakan faktor pembatas bagi pengembangan perkebunan besar di luar wilayah dataran pinggir sungai. Dalam hal penggunaan yang berkelanjutan, tanah-tanah yang paling tidak potensial adalah tanah tipis di lereng curam dan tanah berpasir putih (entisols). Vegetasi alami di lokasi-lokasi tersebut perlu dilindungi.

Meskipun menghuni wilayah yang berlanskap curam ternyata persepsi masyarakat menunjukkan eratnya ketergantungan masyarakat terhadap lahannya untuk bercocok tanam dan kegunaan lainnya. Berbagai interview dengan masyarakat Merap dan Punan memberikan kejelasan bahwa vegetasi dan warna tanah adalah kriteria penting yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas lahan. Tana tiem, atau tanah hitam, diyakini oleh masyarakat sebagai tanah yang paling subur dan produktif untuk penggunaan pertanian. Tanah-tanah yang produktif, menurut persepsi masyarakat, sebagian besar ditemukan pada dataran aluvial dan masih ditutupi hutan. Sementara tanah yang tidak subur berada di daerah rawa dan lereng yang curam.

Terdapat perbedaan persepsi tentang tanah baik di dalam kelompok masyarakat sendiri maupun di antara kelompok yang hidup di wilayah penelitian. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dalam menggunakan lahan dan nilai-nilai budaya tertentu. Masyarakat Merap secara umum menunjukkan pengetahuan dan evaluasi yang lebih mengesankan tentang tanah dibandingkan masyarakat Punan. Lebih jauh, informasi yang diberikan oleh informan Merap menunjukkan hubungan yang lebih jelas dengan hasil pengukuran kami tentang kesuburan tanah.

Lanskap hutan, terutama yang memiliki tanah paling subur, sangat penting dalam kehidupan masyarakat lokal. Persepsi mereka harus dilihat sebagai komponen vital dalam usaha mewujudkan manajemen yang efektif dan berkelanjutan di wilayah Malinau.

Download PDF: Prioritas Masyarakat (310 KB)