Metode
Indonesia
Metode MLA dikembangkan di Malinau, Kalimantan, melalui
lokakarya, serangkaian uji coba, penelitian awal dilakukan di dua kampung yang dilanjutkan
dengan penerapan di lima kampung yang lain. Metode tersebut telah menjadi sebuah proses
multidisipliner dan kolaboratif untuk menetapkan dan mengumpulkan informasi yang paling
berguna dan menentukan dengan memperhatikan dampak lingkungan serta pandangan masyarakat
setempat. Ada banyak orang dan lembaga yang berperan serta dalam penelitian ini.
Berikut ini kami menyajikan gambaran singkat mengenai metode tersebut.
Mereka yang tertarik bisa memperoleh buku metode tersebut, sekarang tersedia dalam Bahasa
Inggris dan Indonesia, dengan melakukan download melalui internet. Buku versi Bahasa
Perancis dan Spanyol sedang dalam penyelesaian.
Di setiap kampung dimana kami melakukan
penelitian, kami membutuhkan waktu minimum satu bulan. Kegiatan pertama selalu
meliputi:
- sebuah pertemuan dengan masyarakat kampung untuk memperkenalkan survei
ini, menyusun rencana, dan memilih para ahli yang bisa membantu pekerjaan kami.
- sebuah latihan awal pemetaan lahan secara partisipatif, yang hasilnya
berupa sebuah daftar jenis lahan berikut hasil-hasil lahan dan penyebarannya di peta. Hal
ini menjadi dasar pengambilan sampel di lapangan.
Tim terdiri dari dua kelompok: tim kampung dan tim lapangan.
Metode penelitian di kampung
-
Wawancara terstruktur dengan kepala kampung, pemuka adat, dan beberapa
informan kunci yang lain. Topik yang ditanyakan meliputi latar belakang budaya dan sejarah
desa, (pengetahuan tradisional) penggunaan lahan, pengumpulan dan penjualan hasil-hasil
hutan, peraturan-peraturan dan pantangan.
Survei rumah tangga menggunakan kuesioner, termasuk kependudukan,
pendapatan, pantangan, pandangan dan aspirasi masyarakat.
Pertemuan kelompok untuk kegiatan pemberian skor yang dinamakan 'Pebble
Distribution Method' (PDM); beberapa kelompok yang ada membagikan 100 biji (kancing baju,
jagung, dll.) di atas kartu yang menggambarkan jenis-jenis lahan dan hutan, kelas
kegunaan, tumbuhan dan binatang, kelas jarak dan periode waktu secara berturut-turut untuk
menunjukkan 'seberapa penting' jenis-jenis tersebut bagi mereka.
Metode penelitian di lapangan
Survei di lapangan merupakan sebuah kombinasi gambaran ilmiah tentang
keadaan suatu tempat, tanah dan vegetasi, dengan pandangan dari masyarakat setempat.
Biasanya satu tim terdiri dari 7-10 orang: 2-4 informan lokal, pakar tanah, pakar
tumbuhan, etnobotanis, pencatat rekaman dan 1 atau 2 orang asisten.

-
Gambaran lokasi: gambaran fisik menyeluruh
tentang keadaan tempat tersebut, seperti halnya deskripsi masyarakat lokal mengenai
sejarah penggunaannya, arti penting lokasi tersebut untuk beberapa kategori kegunaan yang
berbeda, aksesibilitas, nama lokal untuk lokasi tersebut, unit lahan dan vegetasi, dll.
- Transek herba: satu transek berukuran 40 x 5 meter
dibagi lagi menjadi 10 sub unit. Dalam masing-masing unit ini, herba, tumbuhan pemanjat
dan tumbuhan kecil yang lain dicatat. Ahli tumbuhan akan menyebutkan nama jenis tersebut
atau mengumpulkan spesimennya sedangkan etnobotanis akan menanyakan nama lokal dan
kegunaanya kepada informan.
- Unit sampel pohon:: satu unit sampel yang baru dan
serbaguna dibuat, sesuai untuk melakukan penilaian secara cepat pada hutan tropis di
daerah yang heterogen. Tinggi dan keliling untuk sejumlah maksimum 40 pohon diukur untuk
masing-masing lokasi yang berhutan, yang memungkinkan
penghitungan kerapatan dan
basal area. Disamping itu, informan lokal memberikan informasi tentang kegunaan dari
masing-masing pohon.
- Penilaian tanah: dua lobang digali menggunakan sebuah
Belgi augur dan satu profil dari kedalaman 60 cm digali untuk membuat sebuah gambaran
fisik menyeluruh dari tanah tersebut. Seorang informan lokal, yang dipilih oleh oleh
masyarakat sendiri karena pengetahuannya tentang tanah dan pengolahan tanaman, ditanya
mengenai penilaian dan gambaran kualitas tanah menurut masyarakat lokal, nama tanah
tersebut dan kegunaannya yang penting.
|